Jaket Tim Jerman Hasil Curian Dijual Murah
12 Juli 2010
0
comments
SELAMA berada berjalan-jalan di areal kumuhnya Johannesburg, tak sekalipun saya bertemu dengan warga lokal kulit putih. Kondisinya hampir tak jauh berbeda dengan kawasan kumuh yang ada di Jakarta.
Ada penjual yang menggelar dagangannya di trotoar, ada juga beberapa pengamen yang memainkan gitarnya, ada pula deretan pengemis yang berharap minta sedekah dari setiap orang yang lalu-lalang.
Kondisi lalu-lintasnya pun semrawut. Mobil tampak berhenti seenaknya. Saya melihat ada beberapa polisi. Tapi mereka terlihat hanya duduk-duduk di pinggir jalan, lebih memilih ngobrol dengan temannya sesama polisi, ketimbang mengatur lalu-lintas yang semrawut itu.
Selama berada di Johannesburg sebulan lebih, baru siang itu saya sempat blusukan ke areal tersebut. Itu pun karena sedang tidak ada pertandingan, dan karena didorong oleh rasa penasaran setelah mendapat cerita dari seorang warga lokal Noah yang mengantar saya.
Setelah berjalan menyusuri kawasan kumuh itu sejauh kira-kira hampir satu kilometer, saya akhirnya tiba di sebuah areal PKL (pedagang kaki lima). Cara mereka menggelar dagangannya tak jauh berbeda dengan PKL di kota-kota Indonesia. Meja tempat barang dagangan digelar terbuat dari kayu. Penataannya pun terlihat seenaknya. Di tempat itu, dijual aneka macam pakaian, jaket, kaus, tas, sepatu dan berbagai peralatan olahraga. Mirip dengan tempat penjualan barang-barang bekas.
Yang menarik, ada satu stan khusus yang banyak menjual berbagai atribut berbau World Cup. Mulai dari kaus, jaket, topi dan syal yang bergambar negara-negara kontestan. Para pedagang itu rupanya juga menyesuaikan dengan situasi terkini world cup. Di sana, hanya dijual kaus, jaket, topi dan syal dari negara-negara yang akan maju ke babak semifinal: Belanda, Spanyol, Uruguay dan Jerman.
“Aku akan beri Anda barang bagus dengan harga khusus," kata salah seorang dari pedagang PKL itu, lalu mengajak saya ke stannya. Tiba di stannya, dia mengeluarkan bungkusan dari dalam lemari. Ternyata bungkusan itu adalah sebuah jaket tim Jerman, bertanda resmi FIFA dan dari sebuah merek terkenal. "Saya baru dapat kemarin. Ini harga resmi dari toko masih ada," katanya, sambil menunjuk banderol harga 966,66 Rand (sekitar Rp 1 juta). "Saya jual ke Anda 300 Rand saja," katanya.
Saya tak mau terkecoh begitu saja dengan omongan pedagang PKL itu. "Apa sulitnya membuat banderol harga ini? Semua orang bisa melakukannya," kata saya. Si pedagang PKL itu membenarkan. "Tolong ajak teman Anda yang tahu apakah barang ini asli atau tidak. Tolong Anda cek di Sandton City (mal di Sandton), berapa harga jaket seperti ini, lalu Anda kembali lagi ke sini," katanya, kali ini nadanya agak meninggi.
Noah yang mengantar saya mengatakan, jaket itu sengaja tidak dipajang di luar bersama barang dagangan yang lain, karena didapat dengan cara khusus. Ketika ditanya, apa maksudnya cara khusus?, Noah tersenyum. "Itu barang curian," katanya sambil berbisik ke saya.
Noah yakin, jaket Jerman itu asli. Karena itu, dia menyarankan saya membelinya. Terus terang, saya masih belum percaya dengan keaslian dari jaket tersebut.
Tapi, setelah saya teliti secara detail, saya yang sedikit-sedikit tahu bedanya barang yang asli atau tidak dari merek itu, mulai merasa yakin bahwa jaket itu asli.
“Tapi mengapa jaket itu disembunyikan,” tanya saya kepada Noah. Pemuda 24 tahun ini mengatakan, jika jaket itu dipajang di luar, maka akan mengundang kecurigaan dari orang yang bisa membedakan produk asli maupun tiruannya. "Bagaimana menurut Anda, jika ada produk asli dijual di tempat seperti ini?," katanya.
Saya mencoba menawar dari harga 300 Rand itu menjadi 200. Tapi, pedagang PKL itu menolak. "Ayolah.. jaket ini akan mahal nilainya, jika Jerman juara. Saya yakin Jerman akan menjadi juara," katanya, optimistis.
Karena tak juga mau melepas dari harga 200, maka saya beranjak ke tempat lain. Barang-barang yang dipajang di tempat terbuka, memang kelihatan jika produknya tidak asli. Misalnya yang paling mencolok adalah kaus dari tim-tim yang masuk babak semifinal. Terlihat sekali bedanya dengan yang asli.
“Rata-rata pedagang di sini punya barang-barang simpanan (jualannya tak dipajang di luar). Jika Anda ingin barang tertentu, tapi barangnya belum ada di sini, Anda bisa pesan. Mungkin satu hingga tiga hari lagi, barangnya akan datang," katanya.
Noah mengaku banyak membeli barang-barang bermerek dari tempat itu, termasuk sepatu Nike warna putih yang dia kenakan. "Ini asli. Tapi, harganya murah," tambahnya.
Melihat fenomena seperti ini, saya langsung teringat di Tanah Air. Modus mencari barang mahal dengan harga miring seperti itu, juga ada di Indonesia.
