Marak Pria Tawarkan Donor Sperma Gratis Pada Wanita Ingin Anak
13 Oktober 2011
0
comments
Donor Sperma Berbayar harganya sangat mahal, alternatifnya adalah cari yang gratisan
Situs-situs itu juga mencari dan menawarkan pria dengan spermanya. Tapi tak seperti bank sperma, mereka tak perlu dibayar. Selain itu, pria-pria ini juga membuka identitasnya dan mengizinkan dihubungi anak-anak mereka kelak. Motif mereka beragam, ada yang sekadar iseng, ada yang demi seks dan ada pula yang ingin menebarkan gen.
Penasaran, Beth dan Nicole mencobanya. Beberapa hari kemudian, ada yang berminat dengan permintaan mereka. “Beberapa diantaranya aneh. Tapi selebihnya baik dan sudah jelas, mereka terpelajar,” ujar Beth. Berbagai tes kesehatan dilakukan dan akhirnya pilihan mereka jatuh pada pria berusia 30-an tahun. Kedua perempuan itu meminta sperma bukan secara alamiah alias berhubungan seksual. Namun, dengan inseminasi buatan (AI). Yakni sperma disuntikkan ke dalam vagina atau dimasukkan ke dalam wadah lateks yang cukup dimasukkan ke dalam mulut rahim.
Simbiosis Mutulisme, saling membutuhkan itulah yang terjadi di donor sperma gratisan
Ketiganya kemudian duduk di dalam kedai kopi itu, seperti tiga kawan yang sedang hangout. Sayang, Nicole tak hamil. Akhirnya mereka mencoba donor baru dan Beth makin percaya dengan metode ini hingga meluncurkan situs Free Sperm Donor Registry (FSDR) yang mirip situs kencan, untuk orang-orang seperti dirinya dan Nicole.
Dalam enam bulan, FSDR memiliki lebih dari dua ribu anggota, termasuk diantaranya empat ratus donor. Mereka mengklaim sukses ‘menghamili’ belasan orang dan lima diantaranya akan lahir tahun ini. Apa yang dilakukan Beth dan Nicole serta keberadaan FSDR, merupakan perubahan baru dalam penelitian ilmuwan mengenai kesuburan.
Apalagi di Amerika, biaya mendatangi bank sperma yang resmi cukup mahal. Mereka yang menikahi pasangan sejenisnya juga kecewa karena asuransi tak mau menanggung biaya inseminasi buatan kecuali juga si perempuan memiliki bukti benar-benar tak bisa mengandung. Lagipula, mereka merasa si anak harus kenal ayahnya, hal yang dirahasiakan bank sperma.
Jika sebelumnya masalah kesulitan memiliki anak, terutama di Amerika, biasanya dikaitkan dengan kesehatan pasangan. Namun, kali ini masalahnya orientasi seksual. Tentu, pasangan sejenis tak bisa menciptakan kehidupan normal dan membutuhkan pihak ketiga untuk membantunya. Di sinilah situs seperti FSDR berperan besar, meski anggotanya kebanyakan tak saling kenal.
Bagaimana menurut Anda?
(Sumber)