Kecoa Menjadi Inspirasi untuk Kemajuan Teknologi & Kedokteran
11 November 2011
0
comments
Kecoa sejak lama diketahui sebagai binatang yang dianggap hina dan cuma menjadi pengganggu manusia, ternyata memiliki banyak keunggulan, yang membuatnya tetap eksis sejak 300 juta tahun lalu.Selain itu kemampuan adaptasi kecoa, dalam lingkungan paling ekstrim amat mengagumkan. Tidak banyak orang awam yang tahu, bahwa serangga ini, sudah ada di muka Bumi sejak 300 juta tahun lalu. Jadi lebih tua dari Dinosaurus. Ketika keluarga reptil raksasa Dinosaurus musnah sekitar 65 juta tahun lalu, keluarga kecoa terus bertahan hidup, hingga kini. Para ahli biologi bahkan memperkirakan, jika terjadi bencana atom di muka Bumi, salah satu makhluk hidup yang akan tetap eksis adalah kecoa. Mencengangkan, tapi juga sekaligus mengusik rasa penasaran. Salah satu yang menarik perhatian para peneliti, adalah sistem saraf motorik kecoa. dalam sejarah evolusinya yang panjang, Kecoa mengembangkan dua sistem senso-motorik yang independen. Dalam arti, keduanya dapat berfungsi berbarengan, atau juga berfungsi masing-masing tanpa tergantung sistem yang lain. Sistem senso-motorik yang pertama berada di bagian kepala, dengan dua antena yang berfungsi sebagai penala getaran. Dan yang kedua di bagian kaki belakang yang menerus ke bagian perut, dengan rambut-rambut halus, yang juga berfungsi serupa antena. Penelitian Prof. Christopher Comer, ahli saraf dari Universitas Illinois di Chicago AS, menunjukan kecepatan lari kecoa sebetulnya tidak mengagumkan, yakni hanya sekitar lima kilometer per jam. Tapi yang sangat mengagumkan, adalah kecepatan reaksi sistem senso-motoriknya dalam menanggapi rangsangan dari luar. reaksinya terjadi hanya dalam waktu 15 sampai 20 milidetik. Atau lebih cepat dari kedipan mata, Bandingkan dengan kecepatan reaksi otak manusia, yang memerlukan waktu sekitar 200 milidetik, untuk menanggapi rangsangan dari luar. Dengan kecepatan reaksi terhadap rangsangan yang luar biasa ini, sudah mencukupi bagi , untuk dapat melepaskan diri dari segala bahaya. Yang juga amat menarik, adalah dua sistem senso-motorik kecoa yang terpisah dan independen. Jika salah satu sistemnya disabot atau dimatikan, sistem yang lain masih tetap aktif dan berfungsi.
Penerapan dalam bidang Teknologi & Kedokteran yang Terinspirasi lewat Kecoa
||
\/
||
\/
|
Teknologi Mesin.
Dengan
mengamati sistem senso-motorik kecoa, dewasa ini dikembangkan berbagai
kegunaan praktis dari keunggulan sistem tsb. Misalnya saja para ahli
robotik, kini berusaha mengembangkan robot yang memiliki dua sistem
sensorik independen. Bidang terapan dari senso-motorik buatan ini, juga
cukup luas. Mulai dari produk untuk kebutuhan sehari-hari, seperti
mobil misalnya, sampai ke robot penjelajah untuk misi luar angkasa. Di
masa depan, robot penjelajah planit Mars sekelas Spirit atau
Opportunity misalnya, bisa dilengkapi sirkuit pengendali ganda, yang
berfungsi independen persis seperti sistem senso-motorik kecoa. Jika
salah satu sistem macet, yang lainnya tetap berfungsi. Dengan begitu
kehandalan misinya dapat dijamin. Robot yang meniru sistem saraf
motorik kecoa, dikembangkan oleh para peneliti robotik di Universita
Case Western di Cleveland Ohio, AS, masing-masing Daniel Kingsley,
Roger Quinn dan Roy Ritzman, menunjukan bahwa dengan meniru sistem
ganda saraf kecoa, terbukti robotnya menjadi lebih handal. Robot
berbentuk mobil atau rover seperti penjelajah Mars, akan mengalami
kesulitan besar jika salah satu rodanya macet atau sistem
pengendaliannya rusak. Namun dengan meniru sistem saraf motorik kecoa,
hambatan semacam itu dapat ditanggulangi segera.
|
|
Penerapan di dunia Kedokteran.
Selain
penerapannya di wilayah teknologi robotik, penelitian sistem saraf
kecoa oleh Prof. Christopher Comer dan Angela Ridgel dari Universita
Case Western di Cleveland ?Ohio, juga menunjukan arah terapannya dalam
dunia kedokteran. Kecoa yang memiliki kecepatan reaksi mengagumkan,
ternyata juga menderita penyakit degradasi pada alat motoriknya. Yakni
gejala seperti rematik pada kakinya, jika umur kecoa sudah tergolong
tua. Kecoa yang berumur 60 minggu, ternyata berpenyakit tungkai, sama
seperti pada manusia lanjut usia. Penelitian menggunakan kamera
ultra-cepat, yang mampu merekam 125 gambar per detik menunjukan, kaki
kecoa tua, tidak bisa lagi diajak mendaki permukaan yang menanjak. Juga
reaksinya terhadap rangsangan dari luar menurun tajam. Jika
sebelumnya, perubahan angin sedikit saja, memicu reaksi dari sistem
motoriknya, kecoa tua memerlukan waktu untuk bereaksi. Diamati,
kadang-kadang kecoa tua ini bereaksi seperti biasa, yakni lari secepat
kilat, untuk menyembunyikan diri. Atau malahan terdiam di tempat, untuk
mengolah rangsangan yang datang. Akibatnya kecoa tua lebih mudah
ditangkap atau dibunuh. Bagi para ahli saraf sifat degeneratif sistem
saraf kecoa, menjadi bahan pelajaran menarik. Karena sistem saraf kecoa
relatif sederhana, dan serangga itu juga relatif besar, lebih mudah
melakukan pengamatan, mengapa terjadi degenerasi sistem saraf. Selain
itu, proses penuaan pada kecoa tidak perlu ditunggu bertahun-tahun,
seperti pada binatang menyusui yang dijadikan obyek penelitian.
Sementara hasilnya, dapat dianalogikan pada sistem saraf binatang
menyusui, yang jauh lebih kompleks dan lebih sulit diteliti.
|
Keajaiban Kecoa.
Penelitian yang dilakukan Ridgel dalam berbagai situasi, menunjukan kecoa tua ternyata kehilangan koordinasi terhadap kedua sistem saraf motoriknya. Tapi, ketika kecoa tua dipotong kepalanya, gerakan motoriknya menjadi pulih kembali seperti kecoa muda. Apakah kerusakan pada sistem saraf sentral, yang berpusat di otak yang menyebabkan gangguan gerak motorik ini? Rigdel dan tim penelitinya belum menarik kesimpulan sampai ke situ. Tapi penelitian oleh tim lainnya, menegaskan kemungkinan tsb. Hanya saja masih dipertanyakan metode penelitiannya. Apakah pengamatan dilakukan segera, setelah kepala kecoa tua dipotong, atau beberapa jam kemudian? Namun berbagai penelitian terhadap kecoa, dapat ditarik manfaatnya bagi penelitian proses penuaan pada manusia. Sebab proses penuaan pada kecoa, mirip dengan proses penuaan pada manusia. Misalnya saja dicirikan oleh menurunnya fungsi sistem saraf pusat dan anggota badan motorik. Juga kemampuan otak untuk bereaksi menurun tajam. Kecoa tua akhirnya mati, karena kerusakan pada jaringan sistem saraf pusat dan sistem gerak motoriknya. Semula tidak diduga, bahwa kecoa dapat mencapai umur cukup tua, seperti pada manusia modern, yang kini memiliki kecenderungan berumur lebih panjang. Namun juga menghadapi risiko, menurunnya kemampuan motorik dan degenerasi sistem saraf pusat dan otak. Dari penelitian kecoa, para peneliti sistem saraf dan gerak motorik mengharapkan, dapat mengembangkan metode atau obat, untuk mencegah atau memperlambat proses menurunnya kemampuan otak. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian kecoa, juga diteliti kemungkinan, untuk tetap mempertahakankan kemampuan gerak motorik pada manula.
sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?p=548014777&posted=1#post548014777