5 Mitos Tentang Generasi "Millenial"
17 November 2011
0
comments
SHUTTERSTOCK
Nah, ada beberapa mitos
mengenai generasi Y ini. Karena terlihat santai, kelihatan selalu asyik
menggunakan smartphone untuk menjalin komunikasi, banyak yang
beranggapan generasi ini tidak serius bekerja. Padahal, saran beberapa
ahli human resources, apa yang tampak dari luar tidak menggambarkan
dirinya yang sebenarnya.
1. Tidak punya etika kerja.
Fakta:
Etika kerja millennial berpusat pada dirinya sendiri. Mungkin sering
didapati jenis karyawan yang tidak peduli pada lingkungan kerja di
sekitarnya. Padahal, saat sedang "berada dalam dunianya", ia sedang
mengerjakan tugas sampai tuntas. Ketika menghadapi pekerjaan, otak, hati
dan tangannya didedikasikan untuk pekerjaan itu. Makanya alih-alih
ngobrol yang nggak kelas, ia memilih mendengarkan musik lewat earphone
atau headphone.
2. Suka bersenang-senang.
Fakta: Generasi
ini menganggap kerja adalah "sesuatu yang harus dikerjakan di sela-sela
akhir pekan". Jadi, bekerja hanyalah kegiatan yang urutannya di bawah
kegiatan senang-senang. Ini sebabnya, banyak karyawan millennial yang
tak mengejar jabatan. Kebanyakan dari generasi ini bekerja untuk mencari
uang yang bisa digunakan untuk bersenang-senang.
Jika
Anda adalah generasi Y, untuk memotivasi kerja, biasakan memiliki
target apa yang Anda inginkan dalam jangka pendek, menengah dan panjang.
Beri reward pada diri sendiri ketika berhasil mengerjakan suatu tugas,
misalnya menghadiahi diri dengan berlibur di tempat yang Anda inginkan.
3. Hidup hanya untuk hari ini.
Fakta:
Generasi ini menganggap waktu sebagai kurs mata uang. Berbeda dengan
generasi baby boomers (1946 – 1964) yang menganggap waktu adalah
investasi, millennial berusia muda hidup hanya untuk hari ini.
Millennial pasti menyelesaikan tugas yang diberikan, namun begitu
selesai akan meninggalkan urusan kerja dan melakukan hal lain untuk
menikmati hidup. Ia sangat tahu bagaimana menyeimbangkan pekerjaan,
teman, pacar, dan acara bersenang-senang. Jadi tidak ada dalam kamusnya,
istilah "pekerjaan ini membunuhku".
Yang
menarik, karyawan millinneal tidak memusingkan apa yang akan terjadi
nanti. Yang penting kerja baik saja dulu, kalau besok ternyata masih ada
yang kurang, ya tinggal diperbaiki saja, beres kan?
4. Tidak hormat pada atasan atau otoritas.
Fakta: Siapa
bilang? karyawan millennial memiliki rasa hormat pada atasan. Para
millennial memang tak suka pada birokrasi yang berbelit-belit. Namun
bukan berarti ia tidak hormat pada atasan dan pimpinan. Hanya saja, ia
menganggap atasan dan pimpinan sebagai teman. Baginya, hormat dan
kesetiaan, harus diusahakan, bukan berdasarkan otoritas atau hirarki.
Bila millennial respek pada atasan, maka ia akan berlaku setia.
5. Kekanak-kanakan.
Fakta:
Para millennial tidak tahu bagaimana menjadi dewasa. Sebagian besar
dari generasi ini dibesarkan oleh orangtua yang sibuk, yang memberikan
materi kecuali waktu. Karenanya, tak heran ketika para millennial kadang
bertingkah seperti anak kecil. Namun, bukan berarti sikap ini tak bisa
dihilangkan. Bisa, bila mau. Para millennial perlu sering berdiskusi
dengan atasan atau rekan senior. Dengan begitu, mereka bisa belajar
secara langsung bagaimana bersikap dan bertingkah dewasa.
sumber: http://palembang.tribunnews.com/2011/11/17/lima-mitos-tentang-generasi-milenial